Senin, 07 Mei 2012
Mendung Menggantung
Rabu, 26 Oktober 2011
Kamis, 04 November 2010
Hujan Sebentar
Selasa, 24 Maret 2009
Gerimis di antaraTerik Matahari
Siang ini anak-anak sekolah mulai memenuhi jalan, sehingga jalan disesaki kendaraan. Dari motor, truk, bus dan andong. Siang terik begini, hujan masih bisa memberi kabar: kalau aku belum rela meninggalkanmu.
Mungkin, ia tak rela aktifitas manusia sepanjang pagi hingga siang ini tak henti-hentinya dipenuhi peluh keringat bercucuran, ucapan-ucapan penuh keluh kesah. Apalagi jalan jadi macet begini, ini masih untung tidak terjadi di jakarta yang ruwet dan semrawut tapi sebuah kota kecil kecamatan yang skala kemacetannya masih bisa ditolerir.
Sepanjang perjalanan naik motor ternyata kepalaku juga sedang melajukan motor dengan jalan meliuk-liuk, dengan harapan; begitu sampai di warnet kepalaku bisa ditumpahkan di blog ini.
Gerimis tadi, mengingatkan kepalaku bahwa keadaan apapun pasti ada sesuatu yang bisa kita berikan. Terserah mau diterima atau tidak.(baca: masih dalam proses penjajakan dan pendalaman). Dan gerimis adalah setitik asa yang menyelinap di antara ruang sempit dan pengap, di antara terik matahari yang menyengat.
Kamis, 19 Maret 2009
Pergantian Musim
Beberapa hari ini, hujan tak lagi datang. Hanya kabar burung lewat cuaca gelap terang, kalau hujan mau datang. Sekarang udara begitu kencang dari selatan. Suasana di dalam rumah terasa panas walaupun hari sudah malam. Para tetangga keluar seperti laron-laron keluar dari tempat persembunyiannya. Ada yang buka baju, ada juga yang sekadar misuh-misuh dengan keadaan yang berubah. Panas teing!
Para sales keliling justru merasa gembira dengan datangnya musim baru, musim kemarau telah tiba, omset penjualan barang dagangan jadi meningkat dibanding bila hujan melulu, itu sebagian kata sales lho yang kebetulan saya jumpai.
Para pejabat di jakarta, juga mungkin sekarang duduk agak nyaman. Tidak lagi diributi masalah banjir melulu yang tak pernah ada niatan yang tulus untuk memperbaiki keadaan. Yang penting sekarang bagaimana mengamankan kursi agar tetap nyaman selamanya ha...ha..ha..
Padahal sebenarnya sama saja, mau ganti musim atau gak masalah ada saja datang. Coba sekarang lihat, banyak anak-anak maupun orangtua pada terkena penyakit batuk, pilek, diari dan sebentar lagi mungkin wabah demam berdarah....
Jadi pergantian musim ini kita jadikan saja sebagai pergantian cara kita melihat apa yang musti kita lihat...terserah mau dengan cara apa kita.
Jumat, 06 Februari 2009
Pengalaman Saat Hujan
Hujan sudah Berhenti
Selasa, 03 Februari 2009
Hujan itu penting
Saya setiap sore, akhir-akhir ini belahan jiwaku sibuk dengan pakaian-pakaian kotor. Gerimis pagi-pagi buta sudah bertamu. Tentu saja banyak pakaian-pakaian yang menggigil kedinginan dari kemarin-kemarin akhirnya tetap meringkuk di tali jemuran yang terlindung dari hujan. Dua bidadari kecilku pagi-pagi sudah berterbangan, tentu saja saya harus selalu mengawasi, melayani, menemani dan menghibur mereka berdua agar mereka tetap ceria di kala hujan maupun tidak.
Saya harus menyiapkan payung bila hujan masih berlangsung, dua bidadariku akan lebih dulu membangunkan tidurku untuk mengajakku terbang menari-nari menghabiskan waktu.Mungkin dalam pikiran kedua bidadariku, bangun adalah waktunya bermain dengan hujan maupun tidak.
Begitulah, hujan ternyata penting. Saya jadi ingin terus menulis walaupun seringkali tidak ada hubungannya sama sekali dengan hujan. Karena di luar hujan cuma rintik-rintik. Tidak berasa tapi sangat terasa dalam aliran ruang-ruang pikiranku.
Selasa, 27 Januari 2009
Menunggu Hujan
Apa yang terjadi bila perjalanan kita tersendat setelah melihat langit begitu gelap dan tiba-tiba hujan turun deras sekali. Tentu saja bagi yang tidak siap dan terburu-buru ingin sampai pada tempat tujuan, kemungkinan perjalanan terus dilanjutkan (ini mungkin saja, alat yang digunakan dalam perjalanan adalah mobil yang anti hujan) atau yang naik motor yang nekad biar pun baju celana dan sepatu basah semua...
Bagi mereka yang berpikir dua kali, tentu saja kendaraan motornya reflek dipinggirkan ke tempat di mana hujan tidak bisa menjangkaunya. Berharap, hujan tak berlangsung lama. Walaupun akhirnya segala rencana yang telah dirancang dengan matang dengan perhitungan tepat waktu meleset begitu saja.
Di saat-saat menunggu hujan berhenti itulah, segala pikiran apa saja saling berdesingan memenuhi udara di kepalanya. Janjian bertemu dengan seseorang yang sedang ia nanti-nantikan bisa musnah begitu saja. Hp terus berdering: " sampai di mana sekarang, mas? semuanya sudah datang. Ini tinggal nunggu mas saja, acara segera dimulai..". Lelaki itu tentu akan menepuk kepalanya atau menggaruk-garuk rambutnya, "bagaimana nih apa hujan ditrabas saja, sementara ini pakaian satu-satunya yang aku kenakan, jas hujan tidak kebawa. Inilah akibatnya kalau dipersiapkan dengan terburu-buru.."keluhnya dalam hati
Dan kemungkinan orang-orang seperti ini tidak bisa menikmati hujan adalah keindahan yang tiada tara. Hujan yang bisa mendamaikan hati. Bagi mereka, hujan adalah malapetaka. hujan adalah kesialan. Hujan adalah segala rencana awal jadi berantakan....
Bagi sang pejalan sejati, hujan kemungkinan menjadi sumber inspirasi yang mengalir deras sekali, biar hujan biar terang perjalanan tetap terus dilanjutkan. Bila ingin meluruhkan debu-debu ia akan menepi di tempat yang adem dan damai. Ia menepi bukan karena hujan, tetapi karena ia ingin menepi....
Begitulah sepotong hujan dalam sketsa kehidupan, mempunyai pancaran sendiri-sendiri pada setiap manusia yang mengalaminya...[Pojok warnet, siang semelet.fid]